Belajar Bahasa PALI

(Visited 25 times, 1 visits today)

Kelas Pali: Khotbah tentang Belenggu yang Dinamakan Kehausan dan Komentarnya.

Sukhī hontu, Di kelas kali ini Ashin Kheminda mengajarkan kepada para murid cara menerjemahkan tidak hanya sutta tetapi juga aṭṭhakathā (#komentar). Berikut adalah terjemahan dari #Tanhasamyojana Sutta yang berasal dari Khuddaka Nikaya. 5. Taṇhāsaṃyojanasuttaṃ (KN 4.15) 15. vuttañhetaṃ bhagavatā, vuttamarahatāti me sutaṃ — “nāhaṃ, bhikkhave, aññaṃ ekasaṃyojanampi samanupassāmi yena saṃyojanena saṃyuttā sattā dīgharattaṃ sandhāvanti saṃsaranti yathayidaṃ, bhikkhave, taṇhāsaṃyojanaṃ. taṇhāsaṃyojanena hi, bhikkhave, saṃyuttā sattā dīgharattaṃ sandhāvanti saṃsarantī”ti. etamatthaṃ bhagavā avoca. tatthetaṃ iti vuccati —  “taṇhādutiyo puriso, dīghamaddhāna saṃsaraṃ. itthabhāvaññathābhāvaṃ, saṃsāraṃ nātivattati. “etamādīnavaṃ ñatvā, taṇhaṃ dukkhassa sambhavaṃ. vītataṇho anādāno, sato bhikkhu paribbaje”ti. ayampi attho vutto bhagavatā, iti me sutanti. pañcamaṃ. KHOTBAH TENTANG BELENGGU YANG DINAMAKAN KEHAUSAN Ini benar-benar dikatakan oleh Begawan, dikatakan oleh seorang arahat. Demikianlah didengar oleh saya— “Wahai para bhikkhu, saya tidak melihat satu belenggu pun yang lainnya, yang oleh karenanya makhluk-makhluk terikat dalam jangka waktu yang lama, terus-menerus berlari, terus-menerus berpindah, wahai para bhikkhu seperti belenggu yang dinamakan kehausan ini. Oleh karena belenggu yang dinamakan kehausan, Sesungguhnya, Wahai para bhikkhu , makhluk-makhluk terikat dalam jangka waktu yang lama, terus-menerus berlari, terus-menerus berpindah.” Begawan mengatakan pesan itu. Sehubungan dengan hal tersebut, hal berikut ini dikatakan demikian— “Seseorang yang memiliki kehausan sebagai yang kedua adalah seseorang yang terus-menerus berpindah dalam jangka waktu yang lama di eksistensi di sini dan di eksistensi yang lain, tidak melampaui saṃsāra. “setelah mengetahui bahaya ini yaitu kehausan sebagai asal mula penderitaan. Tanpa kehausan, tanpa pelekatan, penuh perhatian, seorang bhikkhu bisa menggembara. Pesan ini pun dikatakan oleh Begawan, Demikianlah didengar oleh saya. Sutta yang kelima. Selamat menikmati! Video ini merupakan kelas #Pali DBS yang diadakan setiap hari Minggu, jam 13.00-15.00. Rekaman ini merupakan bagian akhir dari kelas yang diadakan pada tanggal 29 September 2019, setelah di bagian awal membahas Lesson 24 dari buku Pali Primer. Tujuan dari pembahasan analisis dan sekaligus menerjemahkan suttanta adalah untuk membuat para siswa akrab dengan struktur kalimat di kitab suci. Keakraban dengan struktur kalimat di kitab suci akan membuat mereka menjadi semakin mudah menerjemahkannya. Saat ini berbagai ceramah Kelas Pariyatti Sāsana dan Kelas Abhidhamma Ashin Kheminda sudah dapat didengarkan melalui Spotify, Apple Podcast, iTunes Store dan Google Podcast. Please subscribe/follow and share. https://open.spotify.com/show/3eBvNd5... Untuk informasi lebih lanjut tentang kelas ini, silakan menghubungi: SEKRETARIAT DHAMMAVIHARI BUDDHIST STUDIES (DBS) Email: yayasandhammavihari@gmail.com Telpon: 0857 82 800 200, 0812 86 30 3000 dan 021 22556430 Website: dhammavihari.or.id Facebook: Dhammavihari Buddhist Studies.

Kelas Pali: Khotbah tentang Rintangan Yang Dinamakan Ketidaktahuan dan Komentarnya.

Sukhī hontu, Di kelas kali ini Ashin Kheminda mengajarkan kepada para murid cara menerjemahkan tidak hanya sutta tetapi juga aṭṭhakathā (komentar). Berikut adalah terjemahan dari #Avijjanivarana Sutta yang berasal dari #Khuddaka #Nikaya. 4. Avijjānīvaraṇasuttaṃ (KN 4.14) 14. vuttañhetaṃ bhagavatā, vuttamarahatāti me sutaṃ — “nāhaṃ, bhikkhave, aññaṃ ekanīvaraṇampi samanupassāmi yena nīvaraṇena nivutā pajā dīgharattaṃ sandhāvanti saṃsaranti yathayidaṃ, bhikkhave, avijjānīvaraṇaṃ. avijjānīvaraṇena hi, bhikkhave, nivutā pajā dīgharattaṃ sandhāvanti saṃsarantī”ti. etamatthaṃ bhagavā avoca. tatthetaṃ iti vuccati —  “natthañño ekadhammopi, yenevaṃ nivutā pajā. saṃsaranti ahorattaṃ, yathā mohena āvutā.  “ye ca mohaṃ pahantvāna, tamokhandhaṃ padālayuṃ. na te puna saṃsaranti, hetu tesaṃ na vijjatī”ti. ayampi attho vutto bhagavatā, iti me sutanti. catutthaṃ. KHOTBAH TENTANG RINTANGAN YANG DINAMAKAN KETIDAKTAHUAN Ini benar-benar dikatakan oleh Begawan, dikatakan oleh seorang arahat. Demikianlah didengar oleh saya— “Wahai para bhikkhu, saya tidak melihat bahkan satu rintangan pun yang lainnya yang oleh karenanya generasi ini terhalang dalam jangka waktu yang lama, terus-menerus berlari, terus-menerus berpindah. Wahai para bhikkhu seperti rintangan yang dinamakan ketidaktahuan ini. Oleh karena rintangan yang dinamakan ketidaktahuan, Sesungguhnya, wahai para bhikkhu generasi ini terhalang dalam jangka waktu yang lama, terus-menerus berlari, terus-menerus berpindah.” Begawan mengatakan pesan itu. Sehubungan dengan hal tersebut , hal berikut ini dikatakan demikian — “Tidak ada satu dhamma pun yang lainnya, yang oleh karenanya generasi ini terhalang dengan cara demikian. Terus menerus berpindah siang dan malam, seperti terhalang oleh delusi. Akan tetapi mereka yang setelah meninggalkan delusi, menghancurkan massa kegelapan. Mereka tidak terus-menerus berpindah lagi. ‘Sebab’ tidak eksis untuk mereka.” Pesan ini pun dikatakan oleh Begawan. Demikianlah didengar oleh saya. Sutta yang keempat. Selamat menikmati! Video ini merupakan kelas Pali DBS yang diadakan setiap hari Minggu, jam 13.00-15.00. Rekaman ini merupakan bagian akhir dari kelas yang diadakan pada tanggal 15 September 2019, setelah di bagian awal membahas Lesson 24 dari buku Pali Primer. Tujuan dari pembahasan analisis dan sekaligus menerjemahkan suttanta adalah untuk membuat para siswa akrab dengan struktur kalimat di kitab suci. Keakraban dengan struktur kalimat di kitab suci akan membuat mereka menjadi semakin mudah menerjemahkannya. Saat ini berbagai ceramah Kelas Pariyatti Sāsana dan Kelas Abhidhamma Ashin Kheminda sudah dapat didengarkan melalui Spotify, Apple Podcast, iTunes Store dan Google Podcast. Please subscribe/follow and share. https://open.spotify.com/show/3eBvNd5... Untuk informasi lebih lanjut tentang kelas ini, silakan menghubungi: SEKRETARIAT DHAMMAVIHARI BUDDHIST STUDIES (DBS) Email: yayasandhammavihari@gmail.com Telpon: 0857 82 800 200, 0812 86 30 3000 dan 021 22556430 Website: dhammavihari.or.id Facebook: Dhammavihari Buddhist Studies.

Kelas Pali: Pengetahuan yang Akurat tentang Kesombongan dan Komentarnya.

Sukhī hontu, Di kelas kali ini Ashin Kheminda mengajarkan kepada para murid cara menerjemahkan tidak hanya sutta tetapi juga aṭṭhakathā (#komentar). Berikut adalah terjemahan dari #Manaparinna Sutta yang berasal dari Khuddaka #Nikaya. MĀNAPARIÑÑĀSUTTAṂ (KN 4.8) 8. vuttañhetaṃ bhagavatā, vuttamarahatāti me sutaṃ — “mānaṃ, bhikkhave, anabhijānaṃ aparijānaṃ tattha cittaṃavirājayaṃ appajahaṃ abhabbo dukkhakkhayāya . mānañca kho, bhikkhave, abhijānaṃ parijānaṃ tattha cittaṃ virājayaṃ pajahaṃbhabbo dukkhakkhayāyā””ti. etamatthaṃ bhagavā avoca. tatthetaṃ iti vuccati — “mānupetā ayaṃ pajā, mānaganthā bhave ratā. mānaṃ aparijānantā, āgantāro punabbhavaṃ. “ye ca mānaṃ pahantvāna, vimuttā mānasaṅkhaye. te mānaganthābhibhuno, sabbadukkhamupaccagun””ti . ayampi attho vutto bhagavatā, iti me sutanti. aṭṭhamaṃ PENGETAHUAN YANG AKURAT TENTANG KESOMBONGAN Ini benar-benar dikatakan oleh Begawan, dikatakan oleh seorang arahat. Demikianlah didengar oleh saya—“Wahai para bhikkhu, seseorang yang tidak mengetahui kesombongan secara langsung, seseorang yang tidak mengetahui kesombongan secara menyeluruh. seseorang yang tidak membebaskan batinnya dari nafsu, seseorang yang tidak meninggalkannya di sana, adalah seseorang yang tidak mampu untuk menghancurkan penderitaan. Wahai para bhikkhu dan sesungguhnya seseorang yang mengetahui kesombongan secara langsung seseorang yang mengetahui kesombongan secara menyeluruh, seseorang yang membebaskan batinnya dari nafsu , seseorang yang meninggalkannya di sana, adalah seseorang yang mampu untuk menghancurkan penderitaan. Begawan mengatakan pesan itu. Sehubungan dengan hal tersebut, hal berikut ini dikatakan demikian — Generasi ini dikuasai oleh kesombongan, terikat oleh kesombongan, senang berada di dalam eksistensi. Mereka yang tidak memahami kesombongan secara menyeluruh adalah mereka yang datang ke kelahiran di eksistensi yang baru. Akan tetapi mereka yang setelah meninggalkan kesombongan, terbebaskan melalui kehancuran kesombongan. Mereka yang telah menaklukkan ikatan kesombongan, mengatasi semua penderitaan. Pesan ini pun dikatakan oleh Begawan. Demikianlah didengar oleh saya. Sutta yang ke delapan Selamat menikmati! Video ini merupakan kelas Pali DBS yang diadakan setiap hari Minggu, jam 13.00-15.00. Rekaman ini merupakan bagian akhir dari kelas yang diadakan pada tanggal 15 September 2019, setelah di bagian awal membahas Lesson 23 dari buku Pali Primer. Tujuan dari pembahasan analisis dan sekaligus menerjemahkan suttanta adalah untuk membuat para siswa akrab dengan struktur kalimat di kitab suci. Keakraban dengan struktur kalimat di kitab suci akan membuat mereka menjadi semakin mudah menerjemahkannya.

Kelas Pali (6): Pengetahuan Yang Akurat Tentang ‘Semua.’ (Penjelasan dari Aṭṭhakathā di menit 27.48)

Sukhī hontu, Berikut adalah terjemahan dari Sabbapariññā Sutta yang berasal dari Khuddaka Nikaya. SABBAPARIÑÑĀSUTTAṂ (KN 4.7) 7. vuttañhetaṃ bhagavatā, vuttamarahatāti me sutaṃ — “sabbaṃ, bhikkhave, anabhijānaṃ aparijānaṃ tattha cittaṃ avirājayaṃ appajahaṃ abhabbo dukkhakkhayāya. sabbañca kho, bhikkhave, abhijānaṃ parijānaṃ tattha cittaṃ virājayaṃ pajahaṃ bhabbo dukkhakkhayāyā””ti. etamatthaṃ bhagavā avoca. tatthetaṃ iti vuccati — “yo sabbaṃ sabbato ñatvā, sabbatthesu na rajjati. sa ve sabbapariññā so, sabbadukkhamupaccagā””ti . ayampi attho vutto bhagavatā, iti me sutanti. sattamaṃ. KHOTBAH MENGENAI PENGETAHUAN YANG AKURAT TENTANG ‘SEMUA.’ Ini benar-benar telah dikatakan oleh Begawan, dikatakan oleh seorang arahat. Demikianlah didengar oleh saya—“Wahai para bhikkhu, seseorang yang tidak mengetahui secara langsung, seseorang yang tidak mengetahui secara menyeluruh ‘semua’, seseorang yang tidak membebaskan batinnya dari nafsu, seseorang yang tidak meninggalkannya di sana, adalah seseorang yang tidak mampu untuk menghancurkan penderitaan. Wahai para bhikkhu dan sesungguhnya seseorang yang mengetahui secara langsung seseorang yang mengetahui secara menyeluruh ’semua’, seseorang yang membebaskan batinnya dari nafsu , seseorang yang meninggalkannya di sana, adalah seseorang yang mampu untuk menghancurkan penderitaan. #Begawan mengatakan pesan itu. Sehubungan dengan hal tersebut , yang berikut ini dikatakan demikian — Seseorang yang setelah mengetahui ‘semua’ sebagai ‘semua,’ dia tidak terikat pada segala hal. Melalui pengetahuan yang akurat tentang semua, sungguh, dia keluar dari segala penderitaan. Pesan itu juga disampaikan oleh Begawan. Demikian itu didengar oleh saya. Sutta yang ketujuh. Selamat menikmati! Video ini merupakan kelas Pali DBS yang diadakan setiap hari Minggu, jam 13.00-15.00. Rekaman ini merupakan bagian akhir dari kelas yang diadakan pada tanggal 1 September 2019, setelah di bagian awal membahas Lesson 23 dari buku #Pali Primer. Tujuan dari pembahasan analisis dan sekaligus menerjemahkan #suttanta adalah untuk membuat para siswa akrab dengan struktur kalimat di kitab suci. Keakraban dengan struktur kalimat di kitab suci akan membuat mereka menjadi semakin mudah menerjemahkannya.

Kelas Pali (5): Lobhasutta dll — Terjemahan bahasa Indonesia ada di bagian deskripsi.

Sukhī hontu, DBS mengadakan kelas Pali setiap hari Minggu dari jam 13.00 - 15.00. Rekaman ini merupakan bagian akhir dari kelas yang diadakan pada tanggal 18 Agustus 2019, setelah di bagian awal membahas Lesson 22 dari buku Pali Primer. Tujuan dari pembahasan analisis dan sekaligus menerjemahkan suttanta adalah untuk membuat para siswa akrab dengan struktur kalimat di kitab suci. Keakraban dengan struktur kalimat di kitab suci akan membuat mereka menjadi semakin mudah menerjemahkannya. Sutta yang dibahas kali ini adalah Lobha sutta yang berasal dari Khuddaka Nikaya. LOBHASUTTAṂ (KN 4.1) 1. vuttañhetaṃ bhagavatā, vuttamarahatāti me sutaṃ — “ekadhammaṃ, bhikkhave, pajahatha; ahaṃ vo pāṭibhogo anāgāmitāya. katamaṃ ekadhammaṃ? lobhaṃ, bhikkhave, ekadhammaṃ pajahatha; ahaṃ vo pāṭibhogo anāgāmitāyā””ti. etamatthaṃ bhagavā avoca. tatthetaṃ iti vuccati — “yena lobhena luddhāse, sattā gacchanti duggatiṃ. taṃ lobhaṃ sammadaññāya, pajahanti vipassino. pahāya na punāyanti, imaṃ lokaṃ kudācanan””ti. ayampi attho vutto bhagavatā, iti me sutanti. paṭhamaṃ. Catatan: terjemahan di bawah ini mencantumkan revisi dari terjemahan yang disampaikan di video, yaitu: Revisi terjemahan untuk sutta pertama: yena lobhena luddhāse, sattā gacchanti duggatiṃ. taṃ lobhaṃ sammadaññāya; Revisi terjemahan sutta yang kedua: “yena dosena duṭṭhāse, sattā gacchanti duggatiṃ. taṃ dosaṃ sammadaññāya. Revisi terjemahan sutta yang ketiga: “yena mohena mūḷhāse, sattā gacchanti duggatiṃ. taṃ mohaṃ sammadaññāya. TERJEMAHAN: Ini benar-benar telah dikatakan oleh Begawan, dikatakan oleh seorang arahat. demikianlah didengar oleh saya—“wahai para bhikkhu, tinggalkanlah satu dhamma; saya adalah penjamin untuk status anāgāmi kalian. Yang manakah satu dhamma? Wahai para bhikkhu, kalian tinggalkanlah satu dhamma yaitu keserakahan; saya adalah penjamin untuk status anāgāmi kalian”. Begawan mengatakan pesan itu, Sehubungan dengan hal tersebut, ini dikatakan demikian — “Setelah memahami dengan baik keserakahan yang oleh karenanya makhluk serakah pergi ke tempat tujuan kelahiran yang buruk, mereka yang memiliki pandangan terang meninggalkannya. Setelah meninggalkannya, mereka tidak datang lagi ke dunia ini kapan pun”. Pesan ini pun dikatakan oleh Begawan, demikianlah didengar oleh saya. Sutta yang pertama. DOSASUTTAṂ 2. vuttañhetaṃ bhagavatā, vuttamarahatāti me sutaṃ — “ekadhammaṃ, bhikkhave, pajahatha; ahaṃ vo pāṭibhogo anāgāmitāya. katamaṃ ekadhammaṃ? dosaṃ, bhikkhave, ekadhammaṃ pajahatha; ahaṃ vo pāṭibhogo anāgāmitāyā””ti. etamatthaṃ bhagavā avoca. tatthetaṃ iti vuccati — “yena dosena duṭṭhāse, sattā gacchanti duggatiṃ. taṃ dosaṃ sammadaññāya, pajahanti vipassino. pahāya na punāyanti, imaṃ lokaṃ kudācanan””ti. ayampi attho vutto bhagavatā, iti me sutanti. dutiyaṃ. TERJEMAHAN: Ini benar-benar telah dikatakan oleh Begawan, dikatakan oleh seorang arahat. demikianlah didengar oleh saya—“wahai para bhikkhu, tinggalkanlah satu dhamma; saya adalah penjamin untuk status anāgāmi kalian. Yang manakah satu dhamma? Wahai para bhikkhu, kalian tinggalkanlah satu dhamma yaitu kebencian; saya adalah penjamin untuk status anāgāmi kalian”. Begawan mengatakan pesan itu, Sehubungan dengan hal tersebut, ini dikatakan demikian — “Setelah memahami dengan baik kebencian yang oleh karenanya makhluk pemarah pergi ke tempat tujuan kelahiran yang buruk, mereka yang memiliki pandangan terang meninggalkannya. Setelah meninggalkannya, mereka tidak datang lagi ke dunia ini kapan pun”. Pesan ini pun dikatakan oleh Begawan, demikianlah didengar oleh saya. Sutta yang kedua. MOHASUTTAṂ 3. vuttañhetaṃ bhagavatā, vuttamarahatāti me sutaṃ — “ekadhammaṃ, bhikkhave, pajahatha; ahaṃ vo pāṭibhogo anāgāmitāya. katamaṃ ekadhammaṃ? mohaṃ, bhikkhave, ekadhammaṃ pajahatha; ahaṃ vo pāṭibhogo anāgāmitāyā””ti. etamatthaṃ bhagavā avoca. tatthetaṃ iti vuccati — “yena mohena mūḷhāse, sattā gacchanti duggatiṃ. taṃ mohaṃ sammadaññāya, pajahanti vipassino. pahāya na punāyanti, imaṃ lokaṃ kudācanan””ti. ayampi attho vutto bhagavatā, iti me sutanti. tatiyaṃ. TERJEMAHAN: Ini benar-benar telah dikatakan oleh Begawan, dikatakan oleh seorang arahat. demikianlah didengar oleh saya—“wahai para bhikkhu, tinggalkanlah satu dhamma; saya adalah penjamin untuk status anāgāmi kalian. Yang manakah satu dhamma? Wahai para bhikkhu, kalian tinggalkanlah satu dhamma yaitu delusi; saya adalah penjamin untuk status anāgāmi kalian”. Begawan mengatakan pesan itu, Sehubungan dengan hal tersebut, ini dikatakan demikian — “Setelah memahami dengan baik delusi yang oleh karenanya makhluk yang bodoh pergi ke tempat tujuan kelahiran yang buruk, mereka yang memiliki pandangan terang meninggalkannya. Setelah meninggalkannya, mereka tidak datang lagi ke dunia ini kapan pun”. Pesan ini pun dikatakan oleh Begawan, demikianlah didengar oleh saya. Sutta yang ketiga.

Kelas Pāḷi (4): Vitakkasutta (SN 56.7)

Sukhī hontu, DBS mengadakan kelas #Pali setiap hari Minggu dari jam 13.00 - 15.00. Kelas kali ini adalah bagian akhir dari kelas yang diadakan pada tanggal 11 Agustus 2019, setelah di bagian awal membahas Lesson 21 dari buku Pali Primer. Tujuan dari pembahasan analisis dan sekaligus menerjemahkan suttanta adalah untuk membuat para siswa akrab dengan struktur kalimat di kitab suci. Keakraban dengan struktur kalimat di kitab suci akan membuat mereka menjadi semakin terampil dalam menerjemahkannya. Sutta yang dibahas kali ini adalah Vitakka sutta yang berasal dari Saṃyutta Nikaya. VITAKKASUTTA (SN 56.7) 1077. “mā, bhikkhave, pāpake akusale vitakke vitakkeyyātha VAR, seyyathidaṃ — kāmavitakkaṃ, byāpādavitakkaṃ, vihiṃsāvitakkaṃ. taṃ kissa hetu? nete, bhikkhave, vitakkā atthasaṃhitā nādibrahmacariyakā na nibbidāya na virāgāya na nirodhāya na upasamāya na abhiññāya na sambodhāya na nibbānāya saṃvattanti. ♦️ “vitakkentā ca kho tumhe, bhikkhave, ‘idaṃ dukkhan’ti vitakkeyyātha, ‘ayaṃ dukkhasamudayo’ti vitakkeyyātha, ‘ayaṃ dukkhanirodho’ti vitakkeyyātha, ‘ayaṃ dukkhanirodhagāminī paṭipadā’ti vitakkeyyātha. taṃ kissa hetu? ete, bhikkhave, vitakkā atthasaṃhitā ete ādibrahmacariyakā ete nibbidāya virāgāya nirodhāya upasamāya abhiññāya sambodhāya nibbānāya saṃvattanti. ♦️ “tasmātiha, bhikkhave, ‘idaṃ dukkhan’ti yogo karaṇīyo, ‘ayaṃ dukkhasamudayo’ti yogo karaṇīyo, ‘ayaṃ dukkhanirodho’ti yogo karaṇīyo, ‘ayaṃ dukkhanirodhagāminī paṭipadā’ti yogo karaṇīyo”ti. sattamaṃ. Wahai para bhikkhu, Janganlah (kalian) memikirkan pikiran-pikiran yang jahat dan tidak baik, yaitu-pikiran tentang kenikmatan sensual, pikiran tentang niat jahat, pikiran tentang kekejaman. Apa alasan untuk itu? Wahai para bhikkhu, pikiran-pikiran itu adalah tidak bermanfaat, tidak mengarah kepada prinsip-prinsip kesucian, tidak mengarah kepada kejijikan, tidak mengarah kepada tanpa-nafsu, tidak mengarah kepada akhir, tidak mengarah kepada keredaan, tidak mengarah kepada pengetahuan langsung, tidak mengarah kepada pencerahan, tidak mengarah kepada Nibbāna. Dan wahai para bhikkhu, ketika sedang berpikir, kalian hendaknya berpikir demikian: “ini adalah duka”, kalian hendaknya berpikir demikian: “ini adalah asal mula duka”, kalian hendaknya berpikir demikian: “ini adalah akhir dari duka”, kalian hendaknya berpikir demikian: ”ini adalah jalan yang menuju kepada akhir dari duka.” Apa alasan untuk itu? Wahai para bhikkhu, pikiran-pikiran itu adalah bermanfaat, pikiran-pikiran itu mengarah kepada prinsip-prinsip kesucian, pikiran-pikiran itu mengarah kepada kejijikan, kepada tanpa-nafsu, kepada akhir, kepada keredaan, kepada pengetahuan langsung, kepada pencerahan, kepada Nibbāna. “Oleh karena itu, wahai para bhikkhu, usaha harus dilakukan untuk memahami: ‘ini adalah duka’, usaha harus dilakukan untuk memahami: ‘ini adalah asal mula dari duka’, usaha harus dilakukan untuk memahami: ‘ini adalah akhir dari duka’, usaha harus dilakukan untuk memahami: ‘ini adalah jalan menuju akhir dari duka’”. Sutta yang ketujuh

Kelas Pali (3): Samādhisutta (SN 56.1)

Sukhi hontu. DBS mengadakan kelas #Pali setiap hari Minggu dari jam 13.00 - 15.00. Kelas kali ini adalah bagian akhir dari kelas yang diadakan pada tanggal 4 Agustus 2019, setelah di bagian awal membahas Lesson 21 dari buku Pali Primer. Tujuan dari pembahasan analisis dan sekaligus menerjemahkan #suttanta adalah untuk membuat para siswa akrab dengan struktur kalimat di kitab suci. Keakraban dengan struktur kalimat di kitab suci akan membuat mereka menjadi semakin mudah menerjemahkannya. Sutta yang dibahas kali ini adalah #Samādhi sutta yang berasal dari Saṃyutta #Nikāya. SAMĀDHISUTTA (SN 56.1) Sāvatthinidānaṃ “Samādhiṃ, bhikkhave, bhāvetha. samāhito, bhikkhave, bhikkhu, yathābhūtaṃ pajānāti. kiñca yathābhūtaṃ pajānāti? ‘idaṃ dukkhan’ti yathābhūtaṃ pajānāti, ‘ayaṃ dukkhasamudayo’ti yathābhūtaṃ pajānāti, ‘ayaṃ dukkhanirodho’ti yathābhūtaṃ pajānāti, ‘ayaṃ dukkhanirodhagāminī paṭipadā’ti yathābhūtaṃ pajānāti. samādhiṃ, bhikkhave, bhāvetha. samāhito, bhikkhave, bhikkhu, yathābhūtaṃ pajānāti”. “tasmātiha, bhikkhave, ‘idaṃ dukkhan’ti yogo karaṇīyo, ‘ayaṃ dukkhasamudayo’ti yogo karaṇīyo, ‘ayaṃ dukkhanirodho’ti yogo karaṇīyo, ‘ayaṃ dukkhanirodhagāminī paṭipadā’ti yogo karaṇīyo”ti. paṭhamaṃ. (Bersumber dari) Di Sāvatthi. Wahai para bhikkhu, (kalian) kembangkanlah konsentrasi. Wahai para bhikkhu, seorang bhikkhu yang terkonsentrasi mengetahui dengan jelas sesuai realitas. Dan apa yang dia ketahui dengan jelas sesuai realitas? Dia mengetahui dengan jelas sesuai realitas demikian ini:”Inilah duka”, dia mengetahui dengan jelas sesuai realitas demikian ini:”Inilah asal mula duka”, dia mengetahui dengan jelas sesuai realitas demikian ini: ”Inilah akhir dari duka” dia mengetahui dengan jelas sesuai realitas demikian ini:”Inilah jalan yang mengarah kepada akhir dari duka”. Wahai para bhikkhu, (kalian) kembangkanlah konsentrasi. Wahai para bhikkhu, seorang bhikkhu yang terkonsentrasi mengetahui dengan jelas sesuai realitas. (Buddha berkata:) “Oleh karena itu, wahai para bhikkhu, usaha harus dilakukan untuk memahami:’Inilah duka’, usaha harus dilakukan untuk memahami:’Inilah asal mula duka’, usaha harus dilakukan untuk memahami:’Inilah akhir dari duka’, usaha harus dilakukan untuk memahami:’Inilah jalan yang mengarah kepada akhir dari duka’”. Inilah sutta yang pertama. Selamat menikmati! Untuk informasi lebih lanjut tentang kelas ini, silakan menghubungi: SEKRETARIAT DHAMMAVIHARI BUDDHIST STUDIES (#DBS) Email: yayasandhammavihari@gmail.com Telpon: 0857 82 800 200, 0812 86 30 3000 dan 021 22556430 Website: dhammavihari.or.id Facebook: Dhammavihari Buddhist Studies.

Kelas Pali (2): Upanisasutta (SN 12.23)

Sukhi hontu. DBS mengadakan kelas #Pali setiap hari Minggu dari jam 13.00 - 15.00. Kelas kali ini adalah bagian akhir dari kelas yang diadakan pada tanggal 28 Juli 2019, setelah di bagian awal membahas Lesson 20 dari buku Pali Primer. Tujuan dari pembahasan analisis dan sekaligus menerjemahkan #suttanta adalah untuk membuat para siswa akrab dengan struktur kalimat di kitab suci. Keakraban dengan struktur kalimat di kitab suci akan membuat mereka menjadi semakin mudah menerjemahkannya. Sutta yang dibahas kali ini adalah Upanisasutta yang berasal dari Saṃyutta Nikāya. Selamat menikmati! Untuk informasi lebih lanjut tentang kelas ini, silakan menghubungi: SEKRETARIAT DHAMMAVIHARI BUDDHIST STUDIES (#DBS) Email: yayasandhammavihari@gmail.com Telpon: 0857 82 800 200, 0812 86 30 3000 dan 021 22556430 Website: dhammavihari.or.id Facebook: Dhammavihari Buddhist Studies. Upanisasuttaṃ (SN 12.23) sāvatthiyaṃ viharati ... pe ... “jānato ahaṃ, bhikkhave, passato āsavānaṃ khayaṃ vadāmi, no ajānato no apassato. kiñca, bhikkhave, jānato kiṃ passato āsavānaṃ khayo hoti V.1.28? iti rūpaṃ iti rūpassa samudayo iti rūpassa atthaṅgamo, iti vedanā iti vedanāya samudayo iti vedanāya atthaṅgamo, iti saññā iti saññāya samudayo iti saññāya atthaṅgamo, iti saṅkhārā iti saṅkhāranaṃ samudayo iti saṅkhāranaṃ atthaṅgamo, iti viññāṇaṃ iti viññāṇassa samudayo iti viññāṇassa atthaṅgamoti. evaṃ kho, bhikkhave, jānato evaṃ passato āsavānaṃ khayo hoti”. Buddha tinggal di savatthi…dst. “Wahai para bhikkhu, untuk seseorang yang mengetahui, untuk seseorang yang melihat, saya katakan kehancuran noda-noda batin, bukan untuk seseorang yang tidak mengetahui, bukan untuk seseorang yang tidak melihat. Dan wahai bhikkhu, kehancuran noda-noda batin adalah untuk seseorang yang mengetahui apa, untuk seseorang yang melihat apa? Inilah materi, inilah asal mula materi, inilah kemusnahan materi, inilah perasaan, inilah asal mula perasaan, inilah kemusnahan perasaan, inilah persepsi, inilah asal mula persepsi, inilah kehancuran persepsi, inilah formasi-formasi intensional, inilah asal mula formasi-formasi intensional, inilah kemusnahan formasi-formasi intensional, inilah kesadaran, inilah asal mula kesadaran, inilah kemusnahan kesadaran.” Wahai para bhikkhu, kehancuran noda-noda batin adalah untuk seseorang yang mengetahui demikian, untuk seseorang yang melihat demikian.

Kelas Pali (1): Pembahasan Daṇḍasutta (Udānapāḷi 13)

Rekaman kelas ini diambil dari kelas bahasa Pāḷi yang diadakan di DBS setiap hari Minggu pukul 13.00 - 15.00. Kali ini kelas membahas penggalan dari salah satu sutta di Khuddaka Nikāya di bawah ini: Daṇḍasutta (Udānapāli 13) evaṃ me sutaṃ — ekaṃ samayaṃ bhagavā sāvatthiyaṃ viharati jetavane anāthapiṇḍikassa ārāme. tena kho pana samayena sambahulā kumārakā antarā ca sāvatthiṃ antarā ca jetavanaṃ ahiṃ daṇḍena hananti. atha kho bhagavā pubbaṇhasamayaṃ nivāsetvā pattacīvaramādāya sāvatthiṃ piṇḍāya pāvisi. addasā kho bhagavā sambahule kumārake antarā ca sāvatthiṃ antarā ca jetavanaṃ ahiṃ daṇḍena hanante. Selamat menikmati! Untuk informasi lebih lanjut tentang kelas ini, silakan menghubungi: SEKRETARIAT DHAMMAVIHARI BUDDHIST STUDIES (DBS) Email: yayasandhammavihari@gmail.com Telpon: 0857 82 800 200, 0812 86 30 3000 dan 021 22556430 Website: dhammavihari.or.id Facebook: Dhammavihari Buddhist Studies.