Bhikkhu-Jutāliko-Mahāthera

Phra Maha Ali Jutaliko Mahathera

Ali Kaswara (Bhante Jutaliko sekarang) belajar agama Buddha berawal dari Sekolah Menengah Atas Negeri yang bebas memilih mata pelajaran agama. Saat itu Ali Kaswara memilih mata pelajaran agama Buddha. Sebenarnya sudah sejak dini Ali Kaswara sudah menganut agama Buddha, namun sejak dari SMA lah Ali dapat kesempatan belajar cara kebaktian dan bermeditasi.

Biasanya pengalaman pertama tidak akan terlupakan, demikian pula Ali yang pertama kali mengikuti kebaktian dan meditasi merasakan ketenangan dan ketentraman pikiran. Sesuai arahan dari guru, objek meditasi keluar masuk nafas menjadikan pikiran Ali menjadi lebih sejuk. Sejak itu Ali memutuskan untuk terus memperdalam agama Buddha dan perbanyak meditasi. Agar lebih konsentrasi, maka Ali memanfaatkan meditasi sebelum belajar, dan sebelum menempuh ujian Ali tidak lupa bermeditasi agar pikiran tetap tenang, dan konsentrasi tetap terjaga.

Ali berkeinginan mencurahkan lebih banyak waktu dan pikiran untuk mempelajari agama Buddha dan bermeditasi saat masih menempuh Sekolah Menengah Atas, Ali memohon ijin pada orang tuanya untuk menjadi Bhikkhu. Namum saat itu orang tuanya belum mengijinkan, mungkin orang tuanya saat itu belum melihat keinginan yang kuat. Dengan mengikuti nasehat orangtuanya, Ali melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Aktifitas mendalami agama Buddha dan meditasi tetap dilakukan, bahkan kegiatan Vihara di Tangerang semakin bertambah.

Selanjutnya menjalani masa perkuliahan sejak tahun 1981 hingga 1988 di Universitas Trisakti, Fakultas Teknologi Industri jurusan Teknik Mesin, Aktifitas vihara tetap dijalankan. Saat itu di Trisakti belum ada Unit Kegiatan Mahasiswa Buddha, praktis tidak ada kebaktian dan kegiatan agama Buddha. Di akhir tahun 1984, mulailah beberapa rekan kuliah beragama Buddha diantaranya Senny Ruslim, Andrianto dan Jayanto serta dibantu Ir. Buyung Wahab, mulailah merintis pembentukan Unit Mahasiswa Buddha di Trisakti. Saat itu Bhante Pannavaro berkenan memberikan nama Dhammasena yang berarti prajurit Dhamma.

Bekerjasama dengan dosen agama Buddha Trisakti, diakhir kuliah agama Buddha diumumkanlah kepada para mahasiswa buddhis oleh pengurus Unit Kerohanian Buddha, adanya kebaktian rutin hari jumat di Gedung L kampus A Grogol. Sejak Dhammasena berdiri Ali rutin mengikuti kebaktian rutin dan beberapa kegiatan lainnya seperti Dhammasena camp dan Pekan Penghayatan Dhamma juga diikutinya

Kegiatan Dhammasena yang tidak terlupakan adalah kegiatan yang sifatnya meningkatkan keakraban, yaitu Dhammasena camp dimana acara tersebut dilakukan beberapa hari diluar kota, serta kegiatan Pekan Penghayatan Dhamma, pendalaman dhamma selama satu minggu yang diisi penceramah dan bermeditasi.

Pernah saat itu ditawari untuk menjadi pengurus di Dhammasena, namun karena sibuknya mengatur waktu karena sudah menjadi pengurus di Vihara Tangerang, serta menjadi penceramah, maka tawaran itu pun tidak dipergunakan.

Meski sudah lulus kuliah, informasi kegiatan Dhammasena tetap mengalir, kegiatan terakhir yang diikuti Ali adalah Pekan Penghayatan Dhamma di Lembang Bandung, yang diinformasikan dari ketua panitia pelaksana. Selesai lulus kuliah dan mendapat gelar kesarjanaan di Trisakti, Ali bekerja di perusahaan garmen 2 tahun lalu 3 tahun di perusahaan sepatu Tangerang. Selama bekerja, aktifitas di Vihara dan ceramah tidak pernah ditinggalkan.

Kesungguhan Ali untuk menjadi bhikkhu terus dimonitor oleh sang ayah. Sejak kuliah hingga bekerja, niat untuk menjadi bhikkhu tetap tercermin dari aktifitas vihara dan kegiatan keagamaan tidak pernah surut. Hingga di usia 32 tahun, Ali tetap tidak berusaha menjalin hubungan dengan seorang wanita untuk membina rumah tangga. Memang inilah yang ditempuh Ali, jika sampai menjalin hubungan apalagi hingga menikah, maka akan muncul hambatan untuk merealisasi cita-citanya. Melihat niat dan tekad Ali untuk menjadi bhikkhu yang tidak pernah luntur, orang tua tentu ingin sekali anaknya mencapai apa yang dicita-cita, yaitu apa yang pernah diutarakan saat sekolah menengah atas keinginan menjadi Bhikkhu. Setelah berdiskusi dengan adik-adik dan keluarganya, dan tanpa permintaan ijin kedua kalinya, akhirnya orang tua dan keluarganya mendukung Ali merealisasi cita-cita, menjadi seorang bhikkhu. Kesempatan tersebut langsung dimanfaatkan oleh Ali. Tidak lupa mengucapkan terima kasih pada orangtua nya dengan mau melepaskan anaknya menjadi bhikkhu dan belajar di Thailand,

Saat Ali aktif sebagai pengurus di Vihara Padumutara, Ali sering mendampingi bhante Vin memberikan ceramah, Sehingga niat menjadi bhikkhu pernah pula diutarakan kepada bhante Vin. Dengan referensi bhante Vin, maka Ali menuju ke Thailand dan menetap di Wat Bowonniwet dimana Bhante Vin tinggal.

Proses menjadi bhikkhu pun dilalui oleh Ali, pada tanggal 27 februari 1993 di Wat Bowonniwet Bangkok – Thailand ditabhiskan menjadi Samanera mengikuti Pabbaja. Lalu 14 Juli 1993 ditempat yang sama ditahbiskan menjadi Bhikkhu dengan upajjhaya Y.M. Somdet Phra Yanasangwon Somdet Phra Sanggaraj, Kamma vacacariya Phra Rajwaracan (Bhante Vin). Nama penahbisan Ali Kaswara adalah Jutaliko, Juta berarti cermelang, Aliko adalah nama Ali.. sehingga Jutaliko berarti Ali yang cemerlang, Ali yang bersinar.

Selama proses belajar di Wat Bowonniwet, Thailand, Bhante Jutaliko belajar mendalami mata pelajaran Naktham dan bahasa pali. Bahasa Pali atau bahasa Magadha merupakan bahasa komunikasi yang dipergunakan oleh Sang Buddha. Bahasa Magadha di pergunakan di negara Magadha, negara yang besar dalam jaman Sang Buddha. Dengan menguasai bahasa Pali berarti lebih mengerti bahasa yang dipergunakan pada paritta-paritta suci.

Bagi Bhante Jutaliko, akan banyak sekali manfaatnya jika menguasai bahasa pali, selain lebih mengerti dan mudah menguasai paritta suci, bahasa pali bisa juga merupakan bahasa komunikasi sesama bhikkhu antar negara.
Untuk memperlajari bahasa pali di Wat Bowonniwet, ada 9 tingkat. Ujian kenaikan tingkat dilakukan setiap tahun. Saat ini Bhante Jutaliko telah menempuh hingga tingkat 3. Pada tingkat 3 inilah bhante Jutaliko mendapatkan gelar ”Maha” dari Somdet Phra Phuthacan, sehingga nama Bhante Jutaliko menjadi Phra Maha Ali Jutaliko. Sebelumnya bhante Jutaliko dilingkungan negara Thailand memanggilnya Phra Ali. Setelah mendapatkan ”Maha” berubah menjadi Phra Maha Ali. Hal ini untuk memudahkan membedakan nama, karena sering kali nama penahbisan bisa sama. Bhante Ali akan terus mempelajari bahasa pali ini paling tidak mencapai tingkat 5. Dengan peringkat tersebutlah sudah diperbolehkan mengajarkan bahasa pali. Dengan demikian bhante Jutaliko dapat diperbolehkan mengajarkan bahasa pali jika nanti kembali ke tanah air Indonesia.

Bhante Jutaliko bertekad akan mempelajari lagi beberapa topik mata pelajaran diantara pali paling tidak hingga tingkat 5, dan kursus tentang Upajjhaya. Tentu saja ilmu ini sangat dibutuhkan di Indonesia untuk perkembangan Sangha Theravada Indonesia. Pelajaran yang sudah diperoleh pelajaran tentang Naktham tingkat 1,2 dan 3. Pelajaran bahasa pali tingkat 1,2 dan 3. Berikutnya akan melanjutkan bahasa pali paling tidak hingga tingkat 5. Dan pelajaran tentang upajjhaya. Setelah itu bhante Jutaliko akan kembali ke Indonesia dan mengabdi untuk perkembangan agama Buddha khususnya Sangha Theravada Indonesia.

Selain negara Thailand, Bhante Jutaliko pernah ke Myanmar menemani kawan yang akan mengadakan puja relik, bhante Jutaliko pergi ke Myanmar mencari relik. Di meseum Relik diperoleh beberapa relik dari para Arahat jaman sang Buddha.

Menjadi seorang bhikkhu sangat berbeda dengan umat awam, terutama dalam hal kehidupan sehari-hari. Sebelum menjadi bhikkhu Bhante Jutaliko pernah bekerja selama 5 tahun, selama itu lah pikiran tercurah mencari materi agar dapat hidup mandiri, sehingga sebagian besar pikiran dan waktu nya tercurah mencari materi untuk mempertahankan kehidupan. Sedangkan kehidupan sebagai bhikkhu pikiran diutamakan untuk pengendalian diri sehingga memperoleh ketenangan pikiran serta perkembangan dhamma. Dhamma yang diperoleh di konstribusikan kepentingan orang banyak, untuk kesejahteraan dan ketentraman hidup orang banyak. Sehingga hidup lebih bernilai dan lebih berarti untuk semua orang.

Disela-sela kesibukan belajar di Thailand, Bhante Jutaliko tetap menyempatkan diri kembali ke Indonesia. Liburan belajar biasanya jatuh bulan Maret hingga Mei atau diakhir bulan waisak. Tentu saja sebelum pulang Bhante Jutaliko akan menghubungi kerabat dan Vihara dimana bhante akan tinggal sementara.

Ilmu pengetahuan dan Dhamma yang dimiliki akan sangat bermanfaat jika dibagikan seluas-luasnya. Demikian pula bhante Jutaliko membagikan Dhamma melalui menulis buku yang pernah diterbitkan tahun 2005. Buku Buddha Vamsa buku tersebut adalah terjemahan dari bahasa Thailand mengenai silsilah Buddha yang pernah hadir di Bumi. Pada buku tersebut tercantum 28 Buddha mulai dari pertapa Sumedha yang bertekad menjadi Buddha pada saat jaman Buddha Dipankara. Buku tersebut menjelaskan bahwa sebelum Sang Buddha Gotama sudah ada Buddha-buddha lain yang hadir, dan akan ada Buddha lagi Buddha masa mendatang.

Setiap melakukan ceramah dan kotbah, bhante Jutaliko biasanya selalu mempersiapkan diri dengan menulis ringkasan disebuah buku tulis, tulisan dan buku dikumpulkan sehingga menghasilkan kumpulan tulisan yang setiap saat siap dibukukan. Dengan cara inilah bhante Jutaliko akhirnya dapat menulis buku. Dilakukan sedikit demi sedikit, lembar demi lembar akhir nya menjadi sebuah buku yang siap di ketik, di edit, akhirnya menghasil sebuah buku yang siap masuk percetakan.

Bhante Jutaliko menilai Dhammasena telah mengalami perkembangan, saat masih kuliah di Trisakti, kebaktian dan aktifitas Dhammasena hanya ada di Kampus A, kini Kebaktian sudah ada dibeberapa lokasi mengikuti perkembangan jumlah gedung kampus Trisakti. Saling berkoordinasinya 3 unit Kemahasiswaan Buddha bersatu padu dalam Dhammasena Trisakti merupakan hal yang patut dipertahankan. Sudah adanya Media Dhammasena yang sekarang bernama Buletin Keluarga Dhammasena adalah perkembangan yang patut terus dilanjutkan, dengan media inilah komunikasi sesama anggota Dhammasena baik masih kuliah maupun alumni tetap terus bergulir.

Dengan adanya beberapa tempat kebaktian dan 3 unit kerohanian Buddha di Dhammasena Trisakti, Bhante Jutaliko berpesan untuk terus menjaga komunikasi, saling bertukaran informasi. Kegiatan gabungan minimal satu tahun sekali perlu dilakukan, agar rasa kekeluargaan dan kekompakan terus terjalin. Jangan lupa informasi berbagai kegiatan diinformasikan kepada alumni. Kegiatan saling mendukung antara pengurus dan alumni akan meningkatkan keakraban dan kekompakan, Dengan informasi yang terus mengalir Alumni akan terus memperhatikan perkembangan dan mendukung kegiatan yang dilakukan oleh adik-adiknya yang berusaha mempertahankan kegiatan kerohanian yang sudah dirintis sejak berdirinya Dhammasena.

Di dunia ini tidak ada yang abadi, apa yang ada didunia berlaku hukum Anicca, Demikian pula Dhammasena akan mengalami perubahan, tapi jika ada niat untuk mempertahankan bersama-sama saling mendukung dan saling memperhatikan, maka Dhammasena dapat bertahan lebih lama, Yang diperlukan adalah informasi terus mengalir. Jaman Sang Buddha ada raja Vajji yang sering mengadakan rapat untuk membahas kemajuan bukan kemunduran, sehingga kerajaan tersebut dapat bertahan lama. Demikian pula para pengurus, alumni saling bertukar ide saling membantu, maka Dhammasena terus dapat dipertahankan. Jangan khawatir apa yang belum terjadi, tapi lakukan sebaik mungkin apa yang dapat dilakukan saat ini untuk mempertahankan yang sudah ada. Inilah saran-saran dari bhante Jutaliko untuk Dhammasena Trisakti, untuk Prajurit Dhamma,

Catatan :

Naktham : Pelajaran tentang Dhamma, Vinaya, Riwayat Buddha & 80 Arahat Siswa Utama dan mengarang ceramah dhamma.
Upajjhaya : Bhikkhu yang mendapat tugas mentahbis menjadi samanera atau bhikkhu.
Kamma Vaccariya : Bhikkhu yang membimbing dan mengumumkan informasi proses penahbisan

(Visited 37 times, 1 visits today)

Videos